Showing posts with label Aqeedah. Show all posts
Showing posts with label Aqeedah. Show all posts

Friday, 26 December 2008

Mari Belajar Tauhid 1.03

Kitab Tauhid 1

Penyimpangan Aqidah dan Cara-Cara Pencerahannya

oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan


Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator utama bagi amal yang bermanfaat. Tanpa aqidah yang benar seseorang akan menjadi mangsa bagi persangkaan dan keraguan (skeptikal) yang lama-kelamaan mungkin membatasi dan menghalangi dari pandangan yang benar terhadap jalan hidup kebahagiaan, sehingga hidupnya terasa sempit lalu ia ingin terbebas dari kesempitan tersebut dengan mengingkari nikmat sebuah kehidupan, sekali pun dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada kebanyakan manusia yang telah kehilangan hidayah pada aqidah yang benar.

Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar merupakan masyarakat bahimi (haiwaniah), tidak memiliki prinsip-prinsip hidup yang bahagia, sekali pun mereka ini bergelumang dengan limpahan nikmat material akan tetapi sering sahaja menyeret mereka pada kehancuran, sebagaimana yang kita lihat pada masyarakat jahiliyah.

Karena sesungguhnya kekayaan material memerlukan taujih (pengarahan) dalam penggunaannya, dan tidak ada pemberi arahan yang benar kecuali aqidah shahihah. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman yang bermaksud:

"Wahai Rasul-rasul, makanlah dari benda-benda yang baik lagi halal dan kerjakanlah amal-amal soleh; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui akan apa yang kamu kerjakan." (Al-Mu'minun: 51)


"Dan demi sesungguhnya, Kami telah memberikan kepada Nabi Daud limpah kurnia dari Kami (sambil Kami berfirman): “Hai gunung-ganang, ulang-ulangilah mengucap tasbih bersama-sama dengan Nabi Daud, dan wahai burung-burung (bertasbihlah bersama-sama dengannya)!” Dan juga telah melembutkan besi baginya; (Serta Kami wahyukan kepadanya): “Buatlah baju-baju besi yang luas labuh, dan sempurnakanlah jalinannya sekadar yang dikehendaki; dan kerjakanlah kamu (wahai Daud dan umatmu) amal-amal yang soleh, sesungguhnya Aku Maha Melihat akan segala yang kamu kerjakan." (Saba': 10-11)


Maka kekuatan aqidah tidak boleh dipisahkan dari kekuatan madiyah (material). Jika hal itu dilakukan dengan menyeleweng kepada aqidah batil, maka kekuatan material akan berubah menjadi prasarana yang menghancur dan alat perosak, seperti yang terjadi di negara-negara kuffar yang hanya memiliki kekayaan material, tetapi tidak memiliki kekayaan aqidah yang shohih.

Sebab-sebab penyimpangan dari aqidah shahihah yang harus kita ketahui iaitu:

1. Kejahilan terhadap aqidah shahihah, karena tidak mahu (enggan) mempelajari dan mengajarkannya, atau kerana kurangnya penumpuan terhadap kepentingan aqidah terhadap integriti Ummah. Sehingga tumbuh satu generasi yang langsung tidak mengenal aqidah shahihah dan juga tidak mengetahui lawan atau perkara-perkara yang dapat membatalkan aqidah.

Akibatnya, mereka meyakini yang haq sebagai sesuatu yang batil dan yang batil dianggap sebagai yang haq. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar Radhiallaahu anhu :

"Sesungguhnya ikatan simpul Islam akan pudar satu demi satu, manakala di dalam Islam terdapat orang yang muncul tanpa mengenal perkara-perkara jahiliyyah."


2. Ta'asub (fanatik) kepada sesuatu yang diwarisi dari bapak dan nenek moyangnya, sekali pun perkara itu adalah sesuatu yang batil, dan menafikan apa sahaja yang menyalahinya, sekali pun hal itu adalah sesuatu yang haq. Sebagaimana yang telah difirmankan Allah Subhannahu wa Ta'ala, terjemahannya:

"Dan apabila dikatakan kepada mereka” Turutlah akan apa yang telah diturunkan oleh Allah” mereka menjawab: “(Tidak), bahkan kami (hanya) menurut apa yang kami dapati datuk nenek kami melakukannya”. Patutkah (mereka menurutnya) sekalipun datuk neneknya itu tidak faham sesuatu (apa pun tentang perkara-perkara ugama), dan tidak pula mendapat petunjuk hidayah (dari Allah)?" (Al-Baqarah: 170)


3. Taqlid buta, dengan mengambil pendapat manusia dalam ma­salah aqidah tanpa mengetahui dalilnya dan tanpa menyelidiki se­berapa jauh kebenarannya. Sebagaimana yang terjadi pada golongan-golongan seperti Mu'tazilah, Jahmiyah dan lainnya. Mereka bertaqlid kepada orang-orang sebelum mereka dari para imam sesat, sehingga mereka juga sesat, jauh dari aqidah shahihah.

4. Ghuluw (berlebihan) dalam mencintai para wali dan orang-orang shalih, serta mengangkat mereka di atas darjat yang bukan milik manusia, sehingga meyakini pada diri mereka sesuatu yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah, baik sesuatu yang dapat mendatangkan kemanfa­atan mahupun menolak kemudharatan.

Juga menjadikan para wali itu sebagai perantara antara Allah dan makhlukNya, sehingga sampai pada tingkat penyembahan pada para wali tersebut dan bukan menyembah Allah. Mereka bertaqarrub kepada kuburan para wali itu dengan hai­wan qurban, nadzar, do'a, istighatsah dan meminta pertolongan.

Seba­gaimana yang terjadi pada kaum Nabi Nuh Alaihissalam terhadap orang-orang shalih ketika mereka berkata:

"Jangan kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu, terutama (penyembahan) Wadd, dan Suwaa’, dan Yaghuth, dan Ya’uuq, serta Nasr.." [1] (Nuh: 23)


Dan demikianlah yang terjadi pada pemuja-pemuja kubu­ran di berbagai negeri sekarang ini.

5. Ghaflah (lalai) terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang ter­hampar di alam semesta ini (ayat-ayat kauniyah) dan ayat-ayat Allah yang tertuang dalam KitabNya (ayat-ayat Qur'aniyah). Di samping itu, juga terbuai dengan hasil-hasil kemajuan teknologi dan kebudayaan, sehingga mengira bahawa itu semua adalah hasil ciptaan manusia semata, sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan se­luruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata.

Sebagaimana kesombongan Qarun yang mengatakan:

"Aku diberikan harta kekayaan ini hanyalah disebabkan pengetahuan dan kepandaian yang ada padaku”. (Al-Qasas: 78)


"...berkatalah ia (dengan sikap tidak bersyukur): “Ini ialah hakku (hasil usahaku semata-mata),.." (Fussilat: 50)


Mereka tidak berfikir dan tidak pula melihat keagungan Tuhan yang telah menciptakan alam ini dan yang telah menimbun berbagai macam keistimewaan di dalamnya. Juga yang telah menciptakan manusia lengkap dengan kemahiran, kebijaksanaan dan kemampuan di dalam menemukan keistimewaan-keistimewaan alam serta mengutilisikannya demi kepentingan umat manusia.

“Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu buat itu!” (As-Saffat: 96)


"Patutkah mereka (membutakan mata) tidak mahu memperhatikan alam langit dan bumi dan segala yang diciptakan oleh Allah, ..." (Al-A'raf: 185)


"Allah jualah yang menciptakan langit dan bumi, dan menurunkan hujan dari langit lalu mengeluarkan dengan air hujan itu buah-buahan untuk menjadi makanan bagi kamu; dan Ia yang memberi kemudahan kepada kamu menggunakan kapal-kapal untuk belayar di laut dengan perintahNya, juga yang memudahkan sungai-sungai untuk kamu (mengambil manfaat darinya).Dan Ia juga yang menjadikan matahari dan bulan sentiasa beredar, untuk kepentingan kemudahan kamu, dan yang menjadikan malam dan siang bagi faedah hidup kamu.Dan Ia telah memberi kepada kamu sebahagian dari tiap-tiap apa jua yang kamu hajati. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah nescaya lemahlah kamu menentukan bilangannya." (Ibrahim: 32-34)


Pada umumnya rumah tangga sekarang ini kosong dari pen­garahan yang benar (menurut Islam). Padahal baginda Rasulullah telah bersabda:

"Setiap bayi itu dilahirkan atas dasar fitrah. Maka kedua orang-tuanyalah yang (kemudian) membuatnya menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi." (HR. Al-Bukhari)


Jadi, orangtua mempunyai peranan besar dalam meluruskan jalan hidup anak-anaknya. Enggannya media pendidikan dan media informasi melaksanakan tugasnya. Kurikulum pendidikan kebanyakan tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap pendidikan agama Islam, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali. Sedangkan media informasi, baik media cetak maupun elektronik berubah menjadi sarana penghancur dan perusak, atau paling tidak hanya memfokuskan pada hal-hal yang bersifat kebendaan dan hiburan semata.

Tidak memperhatikan hal-hal yang dapat meluruskan moral dan menanamkan aqidah serta menangkis aliran-aliran sesat. Dari sini, muncullah generasi yang telanjang tanpa senjata, yang tak berdaya di hadapan pasukan kekufuran yang lengkap persenjataannya.

Cara menjernihkan penyimpangan aqidah di dalam perbahasan ringkas

1. Kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam untuk mengambil aqidah shahihah.


Sebagaimana para Salaf Shalih mengambil aqidah mereka dari keduanya. Tidak akan dapat memper­baiki akhir umat ini kecuali apa yang telah memperbaiki umat pendahulunya. Juga dengan mengkaji aqidah golongan sesat dan mengenal syubhat-syubhat mereka untuk langkah-langkah pencegahan dan pembanterasan, karena siapa yang tidak mengenal keburukan, dikhuatiri akan terperosok pula ke dalamnya.

2. Memberi perhatian pada pengajaran aqidah shahihah, aqidah salaf, di berbagai peringkat pendidikan.


Memberi peruntukan pendidikan Tawheed yang cukup serta mengadakan evaluasi yang ketat dalam menyajikan subjek ini.

Harus ditetapkan kitab-kitab salaf yang bersih sebagai subjek pelajaran. Sedangkan kitab-kitab kelompok yang menyeleweng harus dijauhkan.

3. Menyebarkan para da'i ke serata pelusuk bagi meluruskan aqidah umat Islam dengan mengajarkan aqidah salaf serta menjawab dan menolak seluruh aqidah batil.

[1] Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr adalah nama berhala-berhala yang terbesar pada kabilah-kabilah kaum Nabi Nuh, yang semula nama-nama orang shalih. (Al-Qur'an dan Terjemahannya, Departemen Agama RI. pen.).

Mari Belajar Tauhid 1.02

Kitab Tauhid 1

Sumber-Sumber Akidah Yang Benar Dan Manhaj Salaf Dalam Mengambil Akidah

oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan


Aqidah adalah tauqifiyah. Artinya, tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil syar'i, tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalam­nya. Karena itulah sumber-sumbernya terbatas kepada apa yang ada di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Sebab tidak seorang pun yang lebih mengetahui tentang Allah, tentang apa-apa yang wajib bagiNya dan apa yang harus disucikan dariNya melainkan Allah sendiri. Dan tidak seorang pun sesudah Allah yang lebih mengetahui tentang Allah selain Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam.

Oleh karena itu manhaj Salafus Shalih dan para pengikutnya dalam mengambil aqidah terbatas pada Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka segala apa yang ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sun­nah tentang hak Allah mereka mengimaninya, meyakininya dan men­gamalkannya. Sedangkan apa yang tidak ditunjukkan oleh Al-Qur'an dan As-Sunnah mereka menolak dan menafikannya dari Allah. Karena itu tidak ada pertentangan di antara mereka di dalam i'tiqad. Bahkan aqidah mereka adalah satu dan jama'ah mereka juga satu.

Karena Allah sudah menjamin orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan Sunnah RasulNya dengan kesatuan kata, kebenaran aqidah dan kesatuan manhaj. Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ..." (Ali Imran: 103)


"Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barang­siapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (Thaha: 123)


Karena itulah mereka dinamakan firqah najiyah (golongan yang selamat). Sebab Rasulullah telah bersaksi bahwa merekalah yang selamat, ketika memberitahukan bahwa umat ini akan terpecah men­jadi 73 golongan yang kesemuanya di Neraka, kecuali satu golongan. Ketika ditanya tentang yang satu itu, beliau menjawab:

"Mereka adalah orang yang berada di atas ajaran yang sama dengan ajaranku pada hari ini, dan para sahabatku." (HR. Ahmad)


Kebenaran sabda baginda Rasul Shallallaahu alaihi wa Salam tersebut telah terbukti ketika sebagian manusia membangun aqidahnya di atas landasan selain Kitab dan Sunnah, yaitu di atas landasan ilmu kalam dan kaidah-kaidah manthiq yang diwarisi dari filsafat Yunani dan Romawi maka ter­jadilah penyimpangan dan perpecahan dalam aqidah yang mengakibatkan pecahnya umat dan retaknya masyarakat Islam.

Mari Belajar Tauhid 1.01

Kitab Tauhid 1

Makna Akidah Dan Urgensinya Sebagai Landasan Agama

oleh: Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al fauzan

Sumber: BelajarTauhid.Blogspot

Aqidah Secara Etimologi

Aqidah berasal dari kata 'aqd yang berarti pengikatan. Kalimat "Saya ber-i'tiqad begini" maksudnya: saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan "Dia mempunyai aqidah yang benar" berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati, yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya kepada sesuatu.

Aqidah Secara Syara'

Yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, para RasulNya dan kepada Hari Akhir serta kepada qadar yang baik maupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.

Syari'at terbagi menjadi dua: i'tiqadiyah dan amaliyah.

I'tiqadiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti i'tiqad (kepercayaan) terhadap rububiyah Allah dan kewajiban beribadah kepadaNya, juga beri'tiqad terhadap rukun-ru­kun iman yang lain. Hal ini disebut ashliyah (pokok agama). (1)

Sedangkan amaliyah adalah segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal. Seperti shalat, zakat, puasa dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut far'iyah (cabang agama), karena ia di­bangun di atas i'tiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah tergantung dari benar dan rusaknya i'tiqadiyah.

Maka aqidah yang benar adalah fundamen bagi bangunan agama serta merupakan syarat sahnya amal. Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala:

"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadat kepada Tuhan­nya." (Al-Kahfi: 110)


"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu ter­masuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65)


"Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allahlah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)


Ayat-ayat di atas dan yang senada, yang jumlahnya banyak, menunjukkan bahwa segala amal tidak diterima jika tidak bersih dari syirik. Karena itulah perhatian Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang pertama kali adalah pelu­rusan aqidah. Dan hal pertama yang didakwahkan para rasul kepada umatnya adalah menyembah Allah semata dan meninggalkan segala yang dituhankan selain Dia.

Sebagaimana firman Allah Subhannahu wa Ta'ala: "Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): 'Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu', ..." (An-Nahl: 36)


Dan setiap rasul selalu mengucapkan pada awal dakwahnya: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada tuhan bagimu selainNya." (Al-A'raf: 59, 65, 73, 85)


Pernyataan tersebut diucapkan oleh Nabi Nuh, Hud, Shalih, Syu'aib dan seluruh rasul. Selama 13 tahun di Makkah -sesudah bi'tsah- Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam mengajak manusia kepada tauhid dan pelurusan aqidah, karena hal itu merupakan landasan bangunan Islam. Para da'i dan para pelurus agama dalam setiap masa telah mengikuti jejak para rasul dalam berdakwah. Sehingga mereka memulai dengan dakwah kepada tauhid dan pelurusan aqidah, setelah itu mereka mengajak kepada se­luruh perintah agama yang lain.

(1) Syarah Aqidah Safariniyah, I, hal. 4.

Sunday, 14 December 2008

Prinsip-Prinsip Aqeedah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah (1)


Tulisan: Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam yang telah menunjuki kita sekalian kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk. Kita memohon kepada-Nya agar kita senantiasa ditetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat

PENDAHULUAN


Segala puji bagi Allah Rab semesta alam yang telah menunjuki kita sekalian kepada cahaya Islam dan sekali-kali kita tidak akan mendapat petunjuk jika Allah tidak memberi kita petunjuk. Kita memohon kepada-Nya agar kita senantiasa ditetapkan di atas hidayah-Nya sampai akhir hayat, sebagaimana difirmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali dalam keadaan Islam. (Ali-Imran : 102)

Begitu pula kita memohon agar hati kita tidak dicondongkan kepada kesesatan setelah kita mendapat petunjuk.

Artinya : Ya Allah, janganlah engkau palingkan hati-hati kami setelah engkau memberi kami hidayah. (Ali Imran : 8).

Dan semoga shalawat serta salam senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, suri tauladan dan kekasih kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah diutus-Nya sebagai rahmat bagi alam semesta. Dan semoga ridla-Nya selalu dilimpahkan kepada para sahabatnya yang shalih dan suci, baik dari kalangan Muhajirin maupun Anshar, serta kepada para pengikutnya yang setia selama ada waktu malam dan siang.

Wa ba'du : Inilah beberapa kalimat ringkas tentang penjelasan 'Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah yang pada kenyataan hidup masa kini diperselisihkan oleh umat Islam sehingga mereka terpecah belah. Hal itu terbukti dengan tumbuhnya berbagai kelompok (da'wah) kontemporer dan jama'ah-jama'ah yang berbeda-beda. Masing-masing menyeru manusia (umat Islam) kepada golongannya ; mengklaim bahwa diri dan golongan merekalah yang paling baik dan benar, sampai-sampai seorang muslim yang masih awam menjadi bingung kepada siapakah dia belajar Islam dan kepada jama'ah mana dia harus ikut bergabung. Bahkan seorang kafir yang ingin masuk Islam-pun bingung. Islam apakah yang benar yang harus di dengar dan dibacanya ; yakni ajaran Islam yang bersumber kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah yang telah diterapkan dan tergambar dalam kehidupan para sahabat Rasulullah yang mulia dan telah menjadi pedoman hidup sejak berabad-abad yang lalu ; namun justru dia hanya bisa melihat Islam sebagai sebuah nama besar tanpa arti bagi dirinya.

Begitulah yang pernah dikatakan oleh seorang orientalis tentang Islam: Islam itu tertutup oleh kaumnya sendiri, yakni orang-orang yang mengaku-ngaku muslim tetapi tidak konsisten (menetapi) dengan ajaran Islam yang sebenarnya.

Kami tidak mengatakan bahwa Islam telah hilang seluruhnya oleh karena Allah telah menjamin kelanggengan Islam ini dengan keabadian Kitab-Nya sebagaimana Dia telah berfirman.

Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr : 9).

Maka, Pastilah akan senantiasa ada segolongan kaum muslimin yang tetap teguh (konsisten) memegang ajarannya dan memelihara serta membelanya sebagaimana di firmankan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa diantara kamu yang murtad dari agamanya (dari Islam), maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lembut terhadap orang-orang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela .... (Al-Maaidah : 54).

Dan firman Allah.

Artinya : Ingatlah kamu ini. orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Maka diantara kamu ada yang bakhil barang siapa bakhil berarti dia bakhil pada dirinya sendiri, Allah Maha Kaya dan kamu orang-orang yang memerlukan-Nya, dan jika kamu berpaling, niscaya Dia akan mengganti ( kamu) dengan kaum selain kalian dan mereka tidak akan seperti kamu ini. (Muhammad : 38).

Golongan atau jama'ah yang dimaksud adalah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits :

Artinya : Akan senantiasa ada segolongan dari umatku yang tetap membela al-haq, mereka senantiasa unggul, yang menghina dan menentang mereka tidak akan mampu membahayakan mereka hingga datang keputusan Allah (Tabaraka wa Ta'ala), sedang mereka tetap dalam keadaan yang demikian. (Dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari 4/3641, 7460; dan Imam Muslim 5 juz 13, hal. 65-67 pada syarah Imam Nawawy).

Bertolak dari sinilah kita dan siapa saja yang ingin mengenal Islam yangbenar beserta pemeluknya yang setia harus mengenal golongan yang diberkahi ini dan yang mewakili Islam yang benar, Semoga Allah menjadikan kita termasuk dalam golongan ini agar kita bisa mengambil contoh dari berjalan pada jalan mereka dan agar supaya orang kafir yang ingin masuk Islam itupun dapat mengetahui untuk kemudian bisa bergabung.


Disalin dari buku Prinsip-Prinsip Aqidah Ahlus Sunnah Wal-Jama'ah oleh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, diterbitkan oleh Dar Al-Gasem Saudi Arabia PO Box 6373 Riyadh 11442, penerjemah Abu Aasia.

Silsilah Soal Jawab Aqidah_1

Sumber: Malaysia Salafi

بسم الله الرحمن الرحيم

Oleh: Al Ustadz Abu Auzaie

Dipetik daripada kitab : 200 soal jawab tentang akidah Islam karangan Syaikh Hafiz ibnu Ahmad Hakami

Soalan : Apakah kewajipan yang pertama ke atas hamba-hamba?

Jawapan : Kewajipan yang pertama sekali ke atas hamba-hamba ialah mengetahui perkara yang menjadi sebab Allah mencipta mereka, mengambil perjanjian yang teguh daripada mereka dan sebab Allah mengutuskan para rasul dan menurunkan kitab-kitab kepada mereka. Perkara yang yang menjadi sebab dicipta dunia dan akhirat, syurga dan neraka, berlakunya kiamat, diletakkan neraca timbangan amalan dan dibentangkan lembaran amalan. Ketentuan kesengsaraan dan kebahgiaan, dibahagikan cahaya (petunjuk-penterjemah) juga berdasarkan perkara tersebut. Barangsiapa yang tidak diberikan cahaya oleh Allah maka tiadalah cahaya buatnya.



Soalan : Apakah perkara yang menjadi sebab Allah mencipta makhluknya?

Jawapan : Firman Allah :

وما خلقنا السموات والأرض وما بينهما لاعبين 0 وماخلقنا هما الا بالحق ولكن أكثرهم لا يعلمون

Maksudnya : “dan Aku tidak jadikan langit dan bumi serta apa yang ada di antara kedua-duanya dengan bermain-main 0 Aku tidak mencipta kedua-duanya melainkan dengan kebenaran akan tetapi kebanyakkan mereka tidak mengetahui” - Ad-Dukhan ayat 38. Firman Allah:

وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما باطلا ذلك ظن الذين كفروا

Maksudnya : “dan Aku tidak mencipta langit dan bumi serta apa yang ada di antara kedua-duanya secara batil(sia-sia). Yang demikian itu adalah sangkaan orang-orang yang kufur..” - Shod ayat 27. Firman Allah :

وخلق الله السموات والأرض بالحق ولتجزى كل نفس بما كسبت وهم لا يظلمون

Maksudnya : “Allah mencipta langit dan bumi dengan kebenaran dan untuk diberikan pembalasan kepada setiap jiwa dengan apa yang dia kerjakan dan mereka tidak akan dizalimi” - Al-Jathiyah ayat 22. Firman Allah :

وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون

Maksudnya : “dan Aku tidak mencipta jin dan manusia melainkan untuk mereka melakukan ibadat kepadaku” - Az-Zariyat ayat 56



Soalan : Apakah makna hamba?

Jawapan : Perkataan ‘hamba’ sekiranya membawa maksud yang ditundukkan maka ia merangkumi kesemua makhluk yang ada di langit dan di bumi sama ada yang berakal atau tidak, yang basah(hidup) atau kering(mati), yang bergerak atau tidak bergerak, yang zahir dan yang tersembunyi, yang beriman atau kafir, yang baik atau jahat dan lain-lain lagi. Kesemuanya adalah makhluk (ciptaan) Allah ‘azza wa jalla yang tunduk di bawah kuasa dan pentadbirannya. Setiap dari perkara ini ada garisan dan batasan untuk ia berhenti di atasnya. Kesemuanya bergerak pada tempoh yang telah ditetapkan. Tidak sekali-kali mereka akan dapat melintasinya. “Itu merupakan ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji” dan tadbiran Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana. Sekiranya perkataan hamba tadi membawa maksud hamba yang kasih dan tunduk maka ianya khusus kepada orang-orang mukmin yang merupakan hamba-hamba-Nya yang dimuliakan, wali-wali-Nya yang bertaqwa, yang tidak merasa takut (terhadap perkara yang akan terjadi dihadapan mereka-penterjemah) dan tidak merasakan kesedihan (terhadap apa yang mereka tinggalkan-penterjemah).



Soalan : Apakah ibadat?

Jawapan : Ibadat adalah nama yang meliputi setiap perkara yang dikasihi oleh Allah dan diredhio-Nya sama ada perkataan yang zahir dan batin (sama ada amalan hati, lidah dan perbuatan-penterjemah) dan membebaskan diri daripada perkara yang bertentangan dengannya.



Soalan : Bilakah amalan itu dikira sebagai ibadat?

Jawapan : Apabila cukup padanya dua perkara iaitu kesempurnaan rasa kasih dan kesempurnaan rasa tunduk (menghina diri dihadapan Allah-penterjemah). Firman Allah :

والذين آمنوا أشد حبا لله

Maksudnya : “dan orang-orang yang beriman amat kasih kepada Allah” - Al-Baqoroh ayat 165. Firman Allah :

والذين هم من خشية ربهم مشفقون

Maksudnya: “dan orang-orang yang gementar kerana takutkan kepada Rob mereka”- Al-Mukminun ayat 57. Allah telah menghimpunkan kedua-dua sifat ini dalam firman-Nya :

انهم كانوا يسارعون فى الخيرات ويدعوننا رغبا ورهبا وكانوا لنا خاشعين

Maksudnya : “sesungguhnya mereka (para nabi tersebut) bersegera dalam melakukan kebaikan dan berdoa kepadaKu dalam keadaan mengharap dan takut dan mereka itu tunduk dan khusyu’ kepada-Ku” - Surah Al-Anbiya ayat 90